Usai membaca buku karangan Nagiga Nur Ayati saya langsung menelpon ayah. ‘Apa kabar ayah? ucapku sambil berharap ayah baik-baik saja. Di relung hati kusematkan namamu dalam doa. Kami sayang Ayah. Maaf, aku tak pernah mengatakannya. Kuharap kau selalu dalam keadaan baik dan sehat disana. Ayah, tak terasa waktu bergulir dan aku beranjak dewasa ayah. Tapi, semangat dan tenagamu untuk kami sekeluarga tak pernah pudar sedikit pun. ‘Kagum’ setidaknya hanya kata kecil yang bisa kuucapkan. Ayah, sungguh kuingin membuatmu bahagia juga bangga.