Perempuan-Perempuan Tak Berwajah
4:11 AM
Saya tidak menyesal, karena begitu penasaran dan menginginkan
buku ini atas rekomendasi teman meskipun ini masuk kategori buku fiksi. Dan
semakin kesini saya semakin kecanduan menyelesaikan buku dengan tokoh utama jurnalis di dalamnya. Butuh
waktu sekitar 2 hari menyelesaikan Perempuan-perempuan tak berwajah karangan Francesca
Marchiano.
Maria awalnya ragu ketika mendapat tawaran untuk melakukan
liputan ke Afghanistan, dia sudah terlalu nyaman menjadi fotografer makanan
walaupun membosankan. Karena berbagai alasan sudah beberapa tahun dia berhenti memotret
foto jurnalistik. Namun akhirnya dia mengiyakan untuk pergi meliput tentang
wanita-wanita Afghanistan yang memilih untuk bunuh diri daripada harus
dinikahkan dengan pria-pria yang usianya tiga kali lipat usia gadis-gadis
tersebut. Bersama Imogen Glass yang tangguh dan supel, mereka berdua harus
menghadapi dominasi laki-laki dan berbagai keterbatasan dan halangan ketika
mengumpulkan cerita tentang wanita Afghanistan tersebut.
Imo terlihat ambisius untuk mendapatkan wawancara dengan
wanita Afghanistan yang mencoba bunuh diri. Ia melakukan bukan karena memang
peduli tetapi untuk mengejar deadline dan santapan yang gurih untuk media
barat. Dua wanita yang tidak mengerti dengan budaya lokal Afghanistan.
Ketimbang saya mendapatkan simpati dua wanita barat yang melihat penderitaan
wanita Afganistan, lebih banyak skeptis, rasa curiga dari dua orang asing yang
tidak mengerti apa yang mereka lakukan di Afghanistan.
Asal kalian tahu, Indonesia sempat disebut dua kali di novel
ini. Pertama, ketika Maria mengikuti pelatihan keadaan berbahaya di Inggris.
Salah satu pesertanya akan pergi ke Indonesia untuk meliput pemilihan umum.
Kedua, dituliskan demonstrasi di Jakarta hujan peluru. Kesan yang saya dapatkan
Indonesia di novel ini sama berbahaya dengan negara-negara yang rawan konflik
lainnya. Tapi semoga itu tidak benar sama sekali.
Novelnya quoteable banget, penggambaran dua tokoh utamanya
sangatbaik. Tentang Maria yang rapuh dan sensitif namun ternyata punya
pemikiran-pemikiran mendalam dan pertimbangannya sendiri. Mengenai Imo yang
terlihat tangguh dan berani menghadapi apapun juga namun akhirnya meledak juga
ketika dalam perjalanan pulang mobil mereka dicegat oleh petugas patroli. Dan
kelakuan Imo yang lama-lama terasa terlalu memaksa melakukan apapun demi cerita
mereka.
Menurut saya, ada satu potongan adegan yang paling saya
ingat dari The End of Manners ini. Maria yang akhirnya menemukan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya selama ini, ketika dia akhirnya dipaksa
menghadapi ketakutannya sendiri dan menemukan kembali keberanian dalam dirinya.
The End of Manners merupakan cerita tentang persahabatan dan
kesetiaan, serta perubahan besar yang dialami seseorang ketika menjelajah ke
luar dunianya sendiri. Marciano memberikan beberapa pelajaran tentang kepekaan
budaya kepada kita, tetapi kelincahan dan kecerdasan tokoh-tokohnya membuat
pelajaran ini menyenangkan untuk dicerna.
0 komentar