Buku ini seperti sebuah berlian dengan delapan sisi, delapan
kisah di dalamnya yang merupakan cerita dari kehidupan satu orang. Tentang
seorang lelaki yang berprofesi sebagai dokter aborsi. Kisah delapan orang
terkait karena pilihan satu orang. “Delapan Sisi” juga seperti jumlah kaki
gurita, begitu juga kaki laba-laba dan Urip atau Sugeng Wicaksono bertindak
sebagai induknya, memusar di tengah sebagai pelaku utama.
Membaca novel ini membutuhkan konsentrasi tinggi dikarenakan
setting dan budaya dalam novel ini mengacu sekitar tahun 1700-an, mengambil
latar di Eropa, ditambah kepiawaian Matt Rees dalam meramu cerita, alur dan
menurutku ini sebuah novel yang mengasah logika maupun otak pembaca.

Dia adalah orang yang sering ku asumsikan sebagai penyuka senja.
Setiap kali aku mengamatinya, waktu selalu menjelma menjadi asing.
Dan aku selalu jatuh cinta pada pemandangan itu.
Setiap kali aku mengamatinya, waktu selalu menjelma menjadi asing.
Dan aku selalu jatuh cinta pada pemandangan itu.
Bagaimana tidak, ada rasa rindu saat mengamatinya.
Aku rindu, ingin sekali ku dengarkan puluhan nyanyian yang pernah dilantunkannya.
Bagaimana
bisa kusembunyikan rindu ini.
Kalau saja malam dengan sepinya berhenti menertawaiku.
Kalau saja malam dengan sepinya berhenti menertawaiku.
Pasti dapat kusimpan rindu di saku celanamu dengan sangat rapat.
Sudah kutulis semua tentang rindu, bunyi hujan, bau hujan dan semua tentang hujan lainnya sambil kutabur harap.
Sepertinya butuh sedikit berdiam pada kenyataan yang mengelabuhi.
Biarlah lelap mengalihkan ku dari pekiknya cerita ini sebelum terjaga mengantarkan ku pada hujan esok lagi.
Sepertinya butuh sedikit berdiam pada kenyataan yang mengelabuhi.
Biarlah lelap mengalihkan ku dari pekiknya cerita ini sebelum terjaga mengantarkan ku pada hujan esok lagi.
Sepertinya waktu seakan menjadi penggalan-penggalan cerita yang akan terus terekam.
Benar kata sore itu, untuk memulai hari dimulai dengan satu tarikan nafas yang panjang.
Benar kata sore itu, untuk memulai hari dimulai dengan satu tarikan nafas yang panjang.

Secangkir teh, setumpuk kertas dan rindu. Iyaahhh atau iyeeee dan ingihhhhh semuanya
masih tentangmu.
Kamu tahu malam tadi begitu teduh, seteduh ombak yang menghantam buritan kapal dibeberapa tulisanku yang kubacakan.
Kamu tahu, banyak sekali malam tadi yang kukatakan,
Tidak hanya tentang rindu…., hujan…, bau tanah setalah hujan bahkan tentang adikku yang selalu menjadi inspirasiku.
Kamu tahu malam tadi begitu teduh, seteduh ombak yang menghantam buritan kapal dibeberapa tulisanku yang kubacakan.
Kamu tahu, banyak sekali malam tadi yang kukatakan,
Tidak hanya tentang rindu…., hujan…, bau tanah setalah hujan bahkan tentang adikku yang selalu menjadi inspirasiku.
Aku tertidur tapi kamu masih terjaga sembari menyapaku,
bukan jawaban yang kamu dengarkan tapi nyanyian malam yang mungkin hanya kamu
dengar dariku saja.
Kamu indah, mengindah saat memberi senyum.
Kamu tahu, bagaimana saya mencoba merekammu dengan kameraku beberapa purnama lalu.
Bukan itu saja, lagu rindu milik kahitna sudah kunyayikan buatmu dengan suara yang sedemikian rupa pas-pasan,hhhahahah.
Masih kuingat wajahmu yang mengajakku dengan penuh semangat.
Kamu tahu, bagaimana saya mencoba merekammu dengan kameraku beberapa purnama lalu.
Bukan itu saja, lagu rindu milik kahitna sudah kunyayikan buatmu dengan suara yang sedemikian rupa pas-pasan,hhhahahah.
Masih kuingat wajahmu yang mengajakku dengan penuh semangat.
Terus saja membuatku merindumu sampai batas ku melebihi semuanya.
Kamu tahu, sudah kuceritakan rinduku kebeberapa temanku sambil menaruh doa disetiap kalimat yang kulontarkan, apalagi kata rindu.
Kamu tahu, bagaimana sumringanya wajahku mengingat puluhan lagu yang kau nyanyikan untukku maksudku untuk ponselku.
Kamu tahu, sudah kuceritakan rinduku kebeberapa temanku sambil menaruh doa disetiap kalimat yang kulontarkan, apalagi kata rindu.
Kamu tahu, bagaimana sumringanya wajahku mengingat puluhan lagu yang kau nyanyikan untukku maksudku untuk ponselku.
Sudah terlalu banyak rindu yang telah kuucapkan disetiap
tulisanku.
Atas nama rindu dan rasa yang masih tertutup rapi disaku celanamu.
Ini bukan mimpi kosong yang mengawang di angan lalu memecah begitu saja saat dihempas angin.
Ini musim yang baik, semakin berat untuk tak berpijak pada nuansamu setelah malam tadi. Ahhh, setidaknya kelak hal sederhana inilah yang mampu membuat kita bertahan dan bersama.
Semoga engkau tahu tapi menuunggu.
Atas nama rindu dan rasa yang masih tertutup rapi disaku celanamu.
Ini bukan mimpi kosong yang mengawang di angan lalu memecah begitu saja saat dihempas angin.
Ini musim yang baik, semakin berat untuk tak berpijak pada nuansamu setelah malam tadi. Ahhh, setidaknya kelak hal sederhana inilah yang mampu membuat kita bertahan dan bersama.
Semoga engkau tahu tapi menuunggu.
Ketika pertama menemukan buku ini disalah satu toko buku di
Serang - Banten, saya langsung tertarik pada bagian ringkasan cerita yang ada
dibagian kulit belakang buku karangan Jeffrey Archer – (A Prisoner of Birth). Saya jadi menebak-nebak bagaimana seorang
terpidana karena pembunuhan akan bisa menyeret para pelaku sesungguhnya yang masih
berkeliaran ke penjara. Apakah ia akan melarikan diri dari penjara? Atau,
apakah ia akan melakukan melakukan upaya hukum dari penjara saja?
Rasanya baru kemarin terompet tahun baru dibunyikan,
Rasanya baru kemarin indahnya kembang api tenga malam kusaksikan, dan rasanya baru kemarin kepergianmu wahai adikku.
Kota dan bayang-bayang melaju menderu ke arah tak tentu.
Kamu tahu genta waktu ang kau bunyikan dentingnya sampai disini.
Kota dan bayang-bayang melaju menderu ke arah tak tentu.
Kamu tahu genta waktu ang kau bunyikan dentingnya sampai disini.
Sudah hampir setahun berlalu sejak kumulai sesering mungkin menyebut namamu dalam doaku.
Merinduimu di lelangit harap dan mimpi serta jalan-jalan bercabang di kelangkang waktu detak jantungnya adalah hentakan yg tak jelas.
Pada huruf yg gemetar tersimpan puisi dan gelisahku yg mengendap di kedalaman palung jiwa yang meronta dari peluk waktu yang fana.
Kapan aku bisa bertemu denganmu untuk melepas kerinduan yang selalu buatku sesak seperti saat mendaki puncak dengan cara berlari?
Merinduimu di lelangit harap dan mimpi serta jalan-jalan bercabang di kelangkang waktu detak jantungnya adalah hentakan yg tak jelas.
Pada huruf yg gemetar tersimpan puisi dan gelisahku yg mengendap di kedalaman palung jiwa yang meronta dari peluk waktu yang fana.
Kapan aku bisa bertemu denganmu untuk melepas kerinduan yang selalu buatku sesak seperti saat mendaki puncak dengan cara berlari?
Senang rasanya dapat berkumpul dan bersama-sama belajar agama
dengan rekan-rekan lainnya. Sebenarnya tidak ada alasan untuk enggan belajar
agama. Jika memang kita sulit hadir di majelis ilmu karena kesibukan, berbagai
media saat ini telah memudahkan kita untuk belajar. Semuanya jelas tergantung keinginan
kita untuk memanfaatkan waktu serta media-media yang ada. Tidak ada kata terlambat
untuk belajar dan jangan menunda-nunda waktu karena kita tidak tahu apakah
Allah SWT masih memberikan kita kesempatan untuk berada di dunia ini.
Alhamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.
Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'AlaihiWasallam-, keluarga
dan para sahabatnya. Tidak gampang melewati hari-hari tanpa dosa karena kita
bukanlah malaikat yang terjaga dari dosa. Dosa merupakan sesuatu yang tidak
bisa dihindari selama kita hidup di dunia. Karena itu, Tuhan membuka pintu
tobat sebesar-besarnya. Seandainya dosa itu berbau bias dibayangkan tidak akan ada
yang mendekat dengan kita atau sebaliknya.
Hal-hal yang baik
yang telah kita kerjakan bukanlah alat tukar untuk dosa, melainkan sebuah
harapan untuk diampuninya dosa. Karena itu, meskipun saat ini kita berdosa,
belajar adalah bentuk kesungguhan kita menghapus dosa. Oleh karena itu secara
rutin, setiap minggunya kami menggelar NGOPI (Ngobrol Perkara Islam) dengan
lokasi yang berpindah tempat, demi mempererat silahturahim antar karyawan dan
teman-teman lainnya. Ngopi merupakan wadah silahturahmi dalam mengenal islam
tentang syarat, aturan dan ketentuan-ketentuannya untuk di implementasikan ke
dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini biasanya dimulai setelah selesai shalat Isya,
secara bersama-sama teman-teman membaca Ratib Al-Hadad kemudian dilanjutkan
dengan pembacaan Hadis Arbain An-Nawawi. Usai pembacaan dilanjutkan dengan
diskusi seputar perkara islam. Kegiatannya dilaksanakan setiap malam Sabtu dengan
pola diskusi, jadi masing-masing teman dapat mengutarakan apa yang ada
dipikirannya baik sesuai dengan tema atau hadis yang menjadi pembahasan maupun
diluar dari pembahasan.
Mengutip salah satu tulisan pengajar di Pesantren Darut
Tauhid, Malang dalam artikelnya yang berjudul Berbahagilah bagi Anda yang Rajin Shalat Dhuha. Menurutnya, “Kita
pernah bertemu dengan orang baik atau orang yang menganggap diri kita baik.
Benarkah? Sesungguhnya bukan kebaikan yang disandang, tapi ada kekuasaan Tuhan
yang menutupi aib, kesalahan dan dosa-dosa kita sehingga tidak tampak. Kita
tidak bisa bayangkan seandainya Tuhan tidak menutupi borok kita itu. Seandainya
dosa itu berbau, maka tidak ada orang yang mau dekat dengan kita karena tidak
tahan dengan baunya. Masihkah kita merasa baik? Kita hanya bisa minta kepada
Tuhan agar menutupi kesalahan-kesalahan kita seperti yang terucap dalam doa
diantara dua sujud. Ada 7 permohonan kita, satu di antaranya adalah WAJBURNI
(tutupilah kesalahanku) dan Allah mengabulkan permintaan itu.”
Semoga Allah SWT senantiasa
memberi hidayah demi hidayah-Nya kepada kita!!!

Ada beberapa bagian yang sangat membuatku tercengang di buku
ini, salah satunya ; “Kini saya sadari bahwa yang paling sedikit diperdayakan
dari semua perempuan adalah pelacur. Perkawinan adalah lembaga yang dibangun atas
penderitaan yang paling kejam untuk kaum wanita.” halaman 143.
Saya tidak menyesal, karena begitu penasaran dan menginginkan
buku ini atas rekomendasi teman meskipun ini masuk kategori buku fiksi. Dan
semakin kesini saya semakin kecanduan menyelesaikan buku dengan tokoh utama jurnalis di dalamnya. Butuh
waktu sekitar 2 hari menyelesaikan Perempuan-perempuan tak berwajah karangan Francesca
Marchiano.
Membaca novel ini seperti mengurai jawaban dari pertanyaan
setiap orang. Bisakah sepasang manusia kembali mengucap janji ketika mereka
sendiri yang mengakhirinya. Coming home karya Sefryana Khairil menjadi jawabannya.
Hei perempuan sore lihat sini. Tahukah kamu malam tadi kelam berubah, muram kalah, suram terjamah.
Tidak hanya itu saja, rinduku menggebu dan saya takut lepas kendali. Rasanya seperti ingin memeluk angin.
Ayo liat kamera..., senyum. Satu…. sebut delicious terus nyebutnya
dipanjangain yahh. Dua…. ceciles juga dipanjangain. Ketiga…. Pokemon
Goooooonya juga dipanjangin sampai kering tenggorakan dan bibirnya maju. Cheers, salam
sensasi selauk serasa…. Delicious Ceciles!!!!
“Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang
sebenarnya.” Sepertinya apa yang dikatakan Soe
Hok Gie sangat tepat. Pasalnya libur lebaran 1437 H tanpa persiapan apapun,
kuterima ajakan teman seperantauan menjajal terjalanya turunan dan tanjakan
lembah ramma dengan sepatu alas tipis beraroma kopi hitam.
Kau berdiri sendiri disana, melipat tangan dan menatapku dari kejauhan.
Hari itu kau cantik sekali, walau sesekali kulihat kau meraba lelah dikeningmu.
Kudengar sesayup sapamu memanggilku diantara gemuruh hujan dan tiupan angin.
Hari itu kita berpayung hujan dan didekap oleh gigil. Rasanya seperti rindu yang tak hentinya memanggil.
Kalau tahun-tahun sebelumnya saya menjalani ramadhan bersama keluarga, tahun ini saya mau mencoba sesuatu yang baru yakni menemukan ketenangan ditenga keinginan melewati ramadhan bersama keluarga. Setiap ramadhan datang, perasaan saya selalu bercampur aduk antara senang dan haru. Senang karena bisa kembali menjumpai bulan yang didalamnya penuh ibadah dan berkah ini. Haru karena setiap kali ramadhan datang, saya selalu teringat suasana ramadhan di kampung halaman.
Entah kenapa buku ini menarik mata saya. Covernya tidak biasa,
ada kesan retro dan modern. Sangat berbeda dengan kebanyakan cover lainnya yang
“beraturan”, BINTANG BUNTING dengan cover yang tidak biasa memberikan saya
kenikmatan saat membacanya. Ditambah lagi buku ini saya temukan ditumpukan rak
buku I book store Serang Banten saat
perjalanan dinas beberapa minggu silam.