Bayang Rindumu Wahai Adikku
12:49 PM
Rasanya baru kemarin terompet tahun baru dibunyikan,
Rasanya baru kemarin indahnya kembang api tenga malam kusaksikan, dan rasanya baru kemarin kepergianmu wahai adikku.
Kota dan bayang-bayang melaju menderu ke arah tak tentu.
Kamu tahu genta waktu ang kau bunyikan dentingnya sampai disini.
Kota dan bayang-bayang melaju menderu ke arah tak tentu.
Kamu tahu genta waktu ang kau bunyikan dentingnya sampai disini.
Sudah hampir setahun berlalu sejak kumulai sesering mungkin menyebut namamu dalam doaku.
Merinduimu di lelangit harap dan mimpi serta jalan-jalan bercabang di kelangkang waktu detak jantungnya adalah hentakan yg tak jelas.
Pada huruf yg gemetar tersimpan puisi dan gelisahku yg mengendap di kedalaman palung jiwa yang meronta dari peluk waktu yang fana.
Kapan aku bisa bertemu denganmu untuk melepas kerinduan yang selalu buatku sesak seperti saat mendaki puncak dengan cara berlari?
Merinduimu di lelangit harap dan mimpi serta jalan-jalan bercabang di kelangkang waktu detak jantungnya adalah hentakan yg tak jelas.
Pada huruf yg gemetar tersimpan puisi dan gelisahku yg mengendap di kedalaman palung jiwa yang meronta dari peluk waktu yang fana.
Kapan aku bisa bertemu denganmu untuk melepas kerinduan yang selalu buatku sesak seperti saat mendaki puncak dengan cara berlari?
0 komentar