Dunia Tanpa Hak Cipta – Joost Smiers & Marieke Van Schijndel
2:59 PM
Bagaimana jadinya jika dunia tanpa hak cipta? Kemudian pernahkah
kita membayangkan bagaimana jadinya jika hak cipta dihapuskan? Atau bagaimana
kondisi perekonomian jika tidak ada lagi konglomerasi dalam segala aspek
kehidupan manusia? Karya Joost Smiers
dan Marieke Van Schijndel memberikan pandangan baru seputar keberadaan hak
cipta. Bahkan Menurut mereka, sebenarnya hak cipta bertentangan dengan prinsip
demokrasi.
Dalam prinsip
demokrasi, setiap orang bebas menyuarakan aspirasinya, mengritik sebuah karya
seni, dan berdialog untuk menemukan pengembangan dari suatu karya lama menjadi
karya yang lebih inovatif. Namun jika hak cipta masih berlaku, iklim demokrasi
seperti itu tidak akan tercipta.
Seperti yang diterangkan dalam buku ini. Hak cipta merupakan
hak eksklusif yang diberikan kepada seorang pencipta terhadap karyanya. Namun,
hak ini terkadang bukan dimiliki oleh penciptanya, melainkan oleh
perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang yang sesuai dengan karya
tersebut.
Jika suatu karya sudah dihakciptakan maka yang dapat “menyentuh”
karya tersebut hanyalah si pemiliknya saja. Tidak ada pihak lain yang dapat
mengutak-atik karya tersebut. Namun menurut Smiers dan Marieke menyebutkan,
pada saat ini hak cipta tidak lagi berada di tangan pembuat aslinya, melainkan
dipegang oleh konglomerat budaya.
Konglomerat budaya dalam hal ini mengacu pada rumah
produksi, record label, dan para penerbit. Dengan dana dan nama yang
dimilikinya, mereka mampu memasarkan karya cipta dengan keuntungan bersih jauh
lebih besar dibandingkan oleh tangan si pencipta asli sendiri.
Melalui buku ini, Smiers dan Schijndel mencoba untuk membuka
sudut pandang - sudut pandang yang baru bagi para pembaca mengenai
permasalahan-permasalah yang terkait dengan hak cipta. Di dalam buku yang
didalamnya terbagi dalam lima bab ini, Smiers dan Schijndel banyak memaparkan
argumen-argumen yang sebetulnya terkesan cenderung menentang adanya hak cipta
itu sendiri (bab I). Selain itu, Smiers dan Schijndel juga banyak mengkritisi
mengenai permasalahan konglomerasi dalam sebuah hak cipta. Mereka pun juga
mengungkapkan beberapa analisis pendekatan yang akan mengubah hak cipta (bab
2).
Meskipun diawal membaca buku ini sedikit membingungkan. Hal
yang unik pada buku ini, sesuai dengan judulnya pula, bahwa hak cipta pada buku
ini tidak dibatasi atau dalam kata lain buku ini terbit tanpa adanya
perlindungan hak cipta.
Hastini Sabarita, selaku penerjemah dari buku ini, dapat
menerjemahkan buku ini dengan cukup baik. Melalui bahasa yang terkesan jauh
dari ‘berat’, ia membuat isi dari buku ini dapat dipahami dengan mudah,
sehingga isi dan pesan yang terdapat dalam buku ini dapat diserap dengan baik
oleh para pembaca. Argumen-argumen yang terdapat di dalamnya pun jelas dapat
membuat para pembaca memiliki sudut pandang yang baru untuk memahami mengenai
hal-hal yang berkaitan erat dengan hak cipta itu sendiri.
Ini juga dapat menjadi sebagai kajian kritis, Dunia Tanpa
Hak Cipta ternyata tak sekadar mengungkap dan memetakan masalah terkait tatanan
hak cipta dan kepemilikan, melainkan juga menawarkan jawaban. Kritik dengan
solusi.
Namun, Smiers dan Van Schijndel meyakinkan kembali bahwa
solusi ini benar-benar mampu membunuh korporasi kelas kakap yang bergerak di
bidang-bidang budaya. Tidak ada pihak yang mau berinvestasi pada karya yang
sudah menjadi ranah publik, di mana semua orang bisa menjadi pembajak. Namun,
yang ditekankan adalah bahwa tindakan menghapus hak cipta mesti dibarengi
langsung dengan penerapan undang-undang persaingan dan peraturan pasar dalam
mendukung keberagaman konten dan kepemilikan budaya.
0 komentar