Keturunan Kedelapan Pelaut, Anti Mabok!!!!
4:14 PM
Deru angin cukup kencang terdengar disekitar buritan kapal ditambah suara bising mesin kapal menjadi melodi yang harus terdengar tanpa kompromi
selama 2 hari 3 malam. Ada angin tipis bertabur imaji dalam kepalaku saat mencium
aroma laut yang khas dan menikmati kemilau senja yang menjanjikan sejuta
keinginan.
Sekitar 3 jam setelah meninggalkan pelabuhan Batulicin,
seluruh penumpang yang notabenenya merupakan rekan-rekan kerja dikumpulkan. Seperti
biasa, tradisi sebelum berangkat yakni berdoa bersama dilanjutkan dengan absen
crew dari masing-masing divisi.
Karena saya dan beberapa teman-teman terbilang baru ikut di kapal ini, kami dihimbau untuk lebih berhati-hati dan mempersiapkan kresekan serta antimo saat mabuk nanti. Hahahahhh.., mendengar hal tersebut kujawab dengan kencang ‘Tenang saja, saya keturunan kedelapan pelaut… jadi anti mabuk bro.’ Maklum nenek moyang kami seorang pelaut. Jadi ombak ibarat seperti polisi tidur, tidak perlu berlebihan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Entah kenapa langit hari itu seperti kotak P3K yang memberikan banyak kesembuhan. Pemandangannya menyirnakan gunda gulana membuatku bergeming dari bangku kapten yang memang sengaja diletakkan tepat dihadapan senja. Ditambah lagi udaranya yang sejuk menghilangkan duka. Kuhembuskan nafas dan kuhirup aroma laut. Rasanya sangat teduh, seteduh dan seirama gerakan ombak di lautan yang membelah ujung kapal ditambah bau hujan yang beraroma rindu.

Malam ketiga sebelum tiba di Ciwandan, ombak sedikit tidak
bersahabat. Film action, horror, Rhoma Irama, bahkan unyil…. masih jadi percakapan
alot. Rasanya sangat sulit memejamkan mata. Suara bising mesin kapal, volume TV
yang ikut-ikutan begadang ditambah nyanyian dari beberapa mulut teman-teman
saat terlelap. Dipikiran saya hanya muncul pertanyaan berulang, kapan sampainya
KAPTEN… kapan sampainya KAPTEN!!!
2 komentar
keren..bar..naik kapal ya..? kok gak naik pesawat bar..?
ReplyDeletebanyak barang bawaan media pak anjum
Delete