Bayang-Bayang Ramadhan di Perantauan
3:44 PM
Kalau tahun-tahun sebelumnya saya menjalani ramadhan bersama keluarga, tahun ini saya mau mencoba sesuatu yang baru yakni menemukan ketenangan ditenga keinginan melewati ramadhan bersama keluarga. Setiap ramadhan datang, perasaan saya selalu bercampur aduk antara senang dan haru. Senang karena bisa kembali menjumpai bulan yang didalamnya penuh ibadah dan berkah ini. Haru karena setiap kali ramadhan datang, saya selalu teringat suasana ramadhan di kampung halaman.
Kini anak-anak lebih memilih bermain dengan gadgetnya ketimbang membuat petasan tradisional seperti meriam bambu (bazooka) yang fenomenal. Sangat fenomenal menurutku, pasalnya banyak sekali pengalaman yang kulewati bersama teman-teman mulai dari dikejar tetangga dan pengurus masjid hingga alis terbakar dikarenakan posisi meniup lubangnya kurang tepat. Ya… ini mungkin karena pergeseran zaman yang merubah semuanya atau mungkin pula karena saya sudah bukan anak-anak lagi, jadi segala yang ada disekitar saya sudah tidak semenarik dikala saya melihatnya sebagai seorang anak-anak.
Aku rindu rumah... dan semuanya. Dalam diam saya
merenung, saat lebaran nanti ‘Siapa yang menungguku pulang?’ Orang tua dan
saudariku berlebaran di tempat yang sangat jauh. Ah.. renungan ini, jauh lebih
menyakitkan daripada kerinduan akan rumah. Jauh lebih menyakitkan daripada
merindukan seseorang yang belum dimiliki. Sungguh menyesakkan, sepertinya tahun
ini saya menikmati ramadhan dan berlebaran tanpa keluarga terutama Ayah dan ibu.
Mudah - mudahan ibadah dan amalan yang telah kami lakukan mendapat rahmat dari
Allah SWT.
Marhaban Ya Ramadhan,
Marhaban Ya Ramadhan,
Mohon maaf lahir batin.......
0 komentar